Beberapa saat yang lalu ada seseorang yang bertanya pada saya mengenai sistem operasi yang sering digunakan oleh kaum kerah putih dan kerah abu-abu. Saya memerlukan jeda yang cukup lama untuk menjawab pertanyaan tersebut karena ada beberapa kode etik yang harus saya patuhi sebelum menjawab pertanyaan orang tersebut. Sesaat kemudian dengan sangat hati-hati saya jawab pertanyaan orang tersebut. Mereka pada dasarnya tidak terlalu mempermasalahkan Sistem operasi apa yang harus digunakan untuk bekerja, karena pada intinya mereka hanya ingin bekerja dengan lingkungan yang diakrabi dan dapat menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Ada beberapa orang yang beranggapan bahwa mereka hanya bisa bekerja dengan lingkungan yang didukung oleh sistem operasi yang dibuat oleh Microsoft dan ada juga yang fanatik hanya bisa bekerja dengan menggunakan sistem operasi yang bersifat kode terbuka sebagai contoh: Redhat, Kali, dan Fedora. Kemudian sebelum saya selesai menjawab pertanyaan pertama orang tersebut kemudian bertanya "apakah saya bisa memasang dua sistem opera dalam satu komputer?" berat hati saya untuk menjawab karena terlalu banyak aspek yang harus dipertimbangkan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Berhubung beliaunya memaksa otomatis saya harus menjawab pertanyaan tersebut, saya katakan bisa tapi ada beberapa hal dasar yang harus diketahui sebagai resiko dari penggunaan dua sistem operasi dalam satu komputer. Jika Anda memaksa untuk memasang dua sistem operasi ke dalam satu komputer dengan satu Hard drive maka Anda harus berpasarah diri pada tuhan dan berdoĆ” semoga hard drive Anda tidak mendapat masalah. Perlu diketahui terlebih dahulu bahwa sistem operasi dengan kode terbuka sebagai contoh: Ubuntu, Lidows, Red Hat dan saudaranya/distro yang lainya menggunakan partisi yang berbeda dengan sistem operasi buatan Mikocok. Sistem operasi kode terbuka biasanya menggunakan partisi Ext2, ext3 dan ext4 sedangkan saya sendiri lebih suka menggunakan ext4 karena jenis partisi ini lebih stabil dan jarang bermasalah. Selain itu Perlu diketahui juga bila dalam satu HDD terdapat dua macam partisi yang berbeda maka HD Anda akan bekerja sangat keras karena mendapatkan rekaman pemisahan data yang berbeda sehingga harap maklum bila umur HDD Anda tidak akan lama atau akan timbul suara gemeretak pada HDD Anda dalam waktu yang tidak begitu lama. Perlu diketahui juga Anda harus mempunyai software khusus yang disebut dengan Boot Manager atau Pengelola Sistem operasi agar Anda dapat menggunakan dual boot dalam satu HDD, jika Anda tidak mempunyainya otomatis Anda akan mengalami masalah yang cukup rumit ketika memasangnya.
Berikut akan saya beritahukan secara singkat cara memasang dual boot dalam sebuah PC tanpa boot manager. Perlu diingat cara ini sangat beresiko dan dapat mengakibatkan Anda kehilangan data.
Langkah:
1. Silahkan pasang dulu sistem operasi yang Anda gunakan untuk bekerja sehari-hari sebagai contoh Wedus 7.
2. Setelah langkah pertama selesai maka sisa dari partisi HDD Anda dapat Anda gunakan untuk memasang sistem operasi dengan kode terbuka sebagai contoh Ubuntu. Silahkan masukan DVD atau USB drive dengan Ubuntu di dalamnya.
3. Mulai ulang komputer Anda dengan Live Cd kemudian silahkan buat partisi ext3 atau ext4 beserta partisi swap untuk menampung sistem Ubuntu Anda. Jika sudah selesai silahkan ikuti tersu langkah selanjutnya.
4. Mulai ulang komputer Anda dan booting dengan DVD atau Usb drive yang berisi Ubuntu, kemudian masuk menu pemasangan ubuntu kemudian silahkan ikuti langkahnya sampai Anda ketemu dengan menu partisi.
5. Pada langkah ini silahkan pilih menu Install side by side with Wedus 7 dan ikuti langkah selanjutnya yang ada di layar sampai dengan selesai.
6. Jika sudah selesai maka komputer Anda akan reboot dan Anda akan melihat dua menu booting yang berisi Wedus 7 dan Ubuntu dan silahkan pilih sendiri mana yang Anda suka untuk digunakan. Contoh gambar dual boot bisa dilihat di bawah.
Note:
Saya tidak menyarankan Anda menggunakan cara ini karena dapat berakibat fatal seperti yang saya tulis di atas.
